Mar/23/2008 - 11:47:47
Gaya hidup masa kini
Bahagia di Kesempatan Kedua
Gagal di pernikahan pertama tidak jarang membuat trauma. Selalu lari dari kenyataan bukanlah suatu penyelesaian. Karena, tidak sedikit juga kegagalan pernikahan pertama justru menjadi modal ’kesuksesan’ di pernikahan kedua. Apa saja yang perlu menjadi pertimbangan agar kita tak lagi terjebak lagi dalam masalah yang sama, saat memutuskan untuk kembali mengayuh bahtera rumah tangga?
BELAJAR DARI KESALAHAN
”Jangan pernah berpikiran bahwa dengan kembali menikah kita akan terbebas dari masalah-masalah yang pernah kita hadapi di pernikahan pertama,” ungkap Huwaida Achmad (28), saat berbagi tentang kehidupan pernikahan kedua yang ia jalani saat ini bersama Ferry Martawidjaja (34). Pendapat Huwaida ini dibenarkan oleh konsultan perkawinan, Adriana Ginanjar. Menurut Adriana, pernikahan kedua memang jauh lebih rumit dan kompleks sifatnya. Ini dikarenakan pasangan telah membawa ’excess bagage’ berupa kekecewaan, trauma, dan ketakutan-ketakutan yang dibawa dari kegagalan pernikahan pertama. ”Kita tidak bisa mengatakan bahwa ini saatnya menutup buku dan membuka lembaran baru. Menurut saya, itu nonsense!” tegas Adriana.
Pernikahan kedua memang bisa menjadi sangat kompleks saat kita atau pasangan kita memiliki keturunan dari pernikahan sebelumnya. Lambatnya masa penerimaan dan penyesuaian, adanya perbedaan pola asuh, serta pembagian hak asuh dengan mantan pasangan, sering menjadi batu sandungan bagi keharmonisan keluarga baru Anda. Hal-hal inilah yang pertama kali harus dibereskan sebelum Anda memutuskan untuk kembali naik ke pelaminan.
Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian. Di antaranya, memberikan jeda waktu yang cukup bagi Anda dan anak-anak untuk melewati masa penyembuhan, sehingga Anda dan anak Anda siap secara mental dalam menerima kehadiran orang baru dalam kehidupan keluarga.
Pendekatan pun sebaiknya dilakukan secara bertahap, agar anak tidak merasa terintimidasi. Anda dapat mulai memperkenalkan calon pasangan dengan menunjukkan fotonya, kemudian diikuti dengan pertemuan-pertemuan dalam acara bersama yang bersifat santai dan akrab. Jangan lupa mengikutsertakan mereka untuk menilai kelayakan calon pasangan. Dan, sesulit apa pun posisi Anda, jangan pernah menyembunyikan informasi dari anak-anak dengan melakukan hubungan secara tersembunyi, karena hal ini akan melukai kepercayaan mereka terhadap Anda.
Gagal di pernikahan pertama tidak jarang membuat trauma. Selalu lari dari kenyataan bukanlah suatu penyelesaian. Karena, tidak sedikit juga kegagalan pernikahan pertama justru menjadi modal ’kesuksesan’ di pernikahan kedua. Apa saja yang perlu menjadi pertimbangan agar kita tak lagi terjebak lagi dalam masalah yang sama, saat memutuskan untuk kembali mengayuh bahtera rumah tangga? BELAJAR DARI KESALAHAN
”Jangan pernah berpikiran bahwa dengan kembali menikah kita akan terbebas dari masalah-masalah yang pernah kita hadapi di pernikahan pertama,” ungkap Huwaida Achmad (28), saat berbagi tentang kehidupan pernikahan kedua yang ia jalani saat ini bersama Ferry Martawidjaja (34). Pendapat Huwaida ini dibenarkan oleh konsultan perkawinan, Adriana Ginanjar. Menurut Adriana, pernikahan kedua memang jauh lebih rumit dan kompleks sifatnya. Ini dikarenakan pasangan telah membawa ’excess bagage’ berupa kekecewaan, trauma, dan ketakutan-ketakutan yang dibawa dari kegagalan pernikahan pertama. ”Kita tidak bisa mengatakan bahwa ini saatnya menutup buku dan membuka lembaran baru. Menurut saya, itu nonsense!” tegas Adriana.
Pernikahan kedua memang bisa menjadi sangat kompleks saat kita atau pasangan kita memiliki keturunan dari pernikahan sebelumnya. Lambatnya masa penerimaan dan penyesuaian, adanya perbedaan pola asuh, serta pembagian hak asuh dengan mantan pasangan, sering menjadi batu sandungan bagi keharmonisan keluarga baru Anda. Hal-hal inilah yang pertama kali harus dibereskan sebelum Anda memutuskan untuk kembali naik ke pelaminan.
Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian. Di antaranya, memberikan jeda waktu yang cukup bagi Anda dan anak-anak untuk melewati masa penyembuhan, sehingga Anda dan anak Anda siap secara mental dalam menerima kehadiran orang baru dalam kehidupan keluarga.
Pendekatan pun sebaiknya dilakukan secara bertahap, agar anak tidak merasa terintimidasi. Anda dapat mulai memperkenalkan calon pasangan dengan menunjukkan fotonya, kemudian diikuti dengan pertemuan-pertemuan dalam acara bersama yang bersifat santai dan akrab. Jangan lupa mengikutsertakan mereka untuk menilai kelayakan calon pasangan. Dan, sesulit apa pun posisi Anda, jangan pernah menyembunyikan informasi dari anak-anak dengan melakukan hubungan secara tersembunyi, karena hal ini akan melukai kepercayaan mereka terhadap Anda.